Sebagian
besar manusia di dunia memilki idola mereka masing-masing baik itu pria
atau wanita, entah tua maupun muda dan bahkan anak-anak sekalipun
biasanya memilki setidaknya satu tokoh yang dikagumi. Tokoh-tokoh
tersebut kebanyakan berasal dari kalangan selebrity atlet olahraga dan
ada juga yang merupakan tokoh agama serta pengusaha tidak tertutup
kemungkinan jika rakyat jelatapun bisa menjadi idola.

Ketertarikan pada idola biasanya dimulai karena rasa kagum akan
karya-karya yang telah dibuat oleh idola tersebut lalu dilanjutkan
dengan rasa keingintahuan akan pribadi dan kepribadian mereka, namun ada
juga yang jadi penggemar dikarenakan bentuk fisiknya saja apakah mereka
cantik atau ganteng misalnya. Objek fans sebenarnya bukan hanya manusia
saja bisa juga sebuah benda atau sesuatu lainya yang menarik minat para
pengagum.
Memiliki idola adalah sesuatu hal yang wajar jika masih pada batas-batas normal dan yang diidolakanpun memberikan contoh yang baik, namun jika sudah mulai kelewat batas, maka itu sudah lain ceritanya. Fanatisme berlebihan dapat membutakan seseorang sehingga mereka mulai bertindak abnormal dan menjurus kepada hal-hal yang merugikan dirinya maupun orang lain.
Sudah begitu banyak contoh buruk fanatisme berlebihan, yang baru saja terjadi adalah seorang fans di jepang tega menikam idolanya, alasanya apa? Dia marah sang artis pujaan hati mengembalikan hadiah darinya. Lalu disaat para suporter tim sepak bola mengejar wasit yang dinilai tidak adil sehingga membuat tim kesayangan mereka kalah, bukankah itu juga karena fanatisme yang berlebihan, yang lebih parah, mereka sering terlibat adu jotos dan tawuran dengan rival tim kesayanganya, padahal mereka sehoby tuh tapi malah berpecah belah, kan aneh namanya.
Apapun objeknya fanatisme tersebut jika berlebihan, maka tetap akan memberikan dampak negatif kepada mereka yang fanatik maupun lingkungan sekitarnya, tidak terkecuali kalau misalnya yg menjadi objek adalah tokoh ulama. Tidak dapat dipungkiri lagi jika oknum masyarakat kita banyak yang terlalu fanatik kepada kepada tokoh agama yang mereka gemari. Ada seorang ulama yang konon katanya jika kita memasang fotonya di rumah atau di toko maka akan memberikan kemudahan rezeki untuk kita, hingga berbondong-bondonglah masyarakat untuk mencetak dan memajang foto mereka . Bukankah praktek tersebut sama saja dengan memberhalakan mereka? Apakah mereka senang melihat praktek yang demikian? Saya kira mereka justru akan kecewa melihat umatnya tersebut.
Bukan fanatisme berlebihan kepada manusia saja yang menyebabkan masalah fanatik berlebihan kepada bendapun juga mendatangkan kemudharatan seperti batu yang dianggap memiliki khasiat bermacam-macam, permainan / game yang membuat penggemarnya keranjingan. Untuk game tidak perlu kita mencari contoh yang jauh, dulunya saya menggemari salah satu game terkemuka diindonesia, siang malam saya memainkanya tanpa kenal waktu dan lelah. Untungnya setelah itu saya jatuh sakit hingga sakit tersebut saya jadikan peringatan agar tidak kecanduan game online lagi.
Sobat sekalian, bukan kegemaranlah yang merusak kita namun berlebihanyalah yang mendatangkan kerugian, karena sesungguhnya sesuatu yang berlebihan itu memang tidaklah baik. Jadikanlah kegemaran sebagai sesuatu yang memotifasi kita untuk berkarya dan menjadi lebih baik lagi kedepanya, bukan malah jadi bumerang yang akan balik menyerang kita. Kegemaran sebenarnya adalah potensi yang baik jika kita bisa mengontrolnya.
Sobat, sekian dulu dari saya mengenai dampak negatif fanatisme berlebihan, mohon maaf jika banyak kekurangan dalam tulisan ini, karena saya memang masih butuh banyak belajar. Terimakasih atas kunjunganya, dan salam sukses buat sobat semua.
Memiliki idola adalah sesuatu hal yang wajar jika masih pada batas-batas normal dan yang diidolakanpun memberikan contoh yang baik, namun jika sudah mulai kelewat batas, maka itu sudah lain ceritanya. Fanatisme berlebihan dapat membutakan seseorang sehingga mereka mulai bertindak abnormal dan menjurus kepada hal-hal yang merugikan dirinya maupun orang lain.
Sudah begitu banyak contoh buruk fanatisme berlebihan, yang baru saja terjadi adalah seorang fans di jepang tega menikam idolanya, alasanya apa? Dia marah sang artis pujaan hati mengembalikan hadiah darinya. Lalu disaat para suporter tim sepak bola mengejar wasit yang dinilai tidak adil sehingga membuat tim kesayangan mereka kalah, bukankah itu juga karena fanatisme yang berlebihan, yang lebih parah, mereka sering terlibat adu jotos dan tawuran dengan rival tim kesayanganya, padahal mereka sehoby tuh tapi malah berpecah belah, kan aneh namanya.
Apapun objeknya fanatisme tersebut jika berlebihan, maka tetap akan memberikan dampak negatif kepada mereka yang fanatik maupun lingkungan sekitarnya, tidak terkecuali kalau misalnya yg menjadi objek adalah tokoh ulama. Tidak dapat dipungkiri lagi jika oknum masyarakat kita banyak yang terlalu fanatik kepada kepada tokoh agama yang mereka gemari. Ada seorang ulama yang konon katanya jika kita memasang fotonya di rumah atau di toko maka akan memberikan kemudahan rezeki untuk kita, hingga berbondong-bondonglah masyarakat untuk mencetak dan memajang foto mereka . Bukankah praktek tersebut sama saja dengan memberhalakan mereka? Apakah mereka senang melihat praktek yang demikian? Saya kira mereka justru akan kecewa melihat umatnya tersebut.
Bukan fanatisme berlebihan kepada manusia saja yang menyebabkan masalah fanatik berlebihan kepada bendapun juga mendatangkan kemudharatan seperti batu yang dianggap memiliki khasiat bermacam-macam, permainan / game yang membuat penggemarnya keranjingan. Untuk game tidak perlu kita mencari contoh yang jauh, dulunya saya menggemari salah satu game terkemuka diindonesia, siang malam saya memainkanya tanpa kenal waktu dan lelah. Untungnya setelah itu saya jatuh sakit hingga sakit tersebut saya jadikan peringatan agar tidak kecanduan game online lagi.
Sobat sekalian, bukan kegemaranlah yang merusak kita namun berlebihanyalah yang mendatangkan kerugian, karena sesungguhnya sesuatu yang berlebihan itu memang tidaklah baik. Jadikanlah kegemaran sebagai sesuatu yang memotifasi kita untuk berkarya dan menjadi lebih baik lagi kedepanya, bukan malah jadi bumerang yang akan balik menyerang kita. Kegemaran sebenarnya adalah potensi yang baik jika kita bisa mengontrolnya.
Sobat, sekian dulu dari saya mengenai dampak negatif fanatisme berlebihan, mohon maaf jika banyak kekurangan dalam tulisan ini, karena saya memang masih butuh banyak belajar. Terimakasih atas kunjunganya, dan salam sukses buat sobat semua.
No comments :
Post a Comment